Arkeolog Ungkap Bukti Istana Kerajaan Daud di Israel

Estimated read time 3 min read

Kisah  atau David tercatat dalam agama-agama samawi, baik Islam, Kristen, juga Yahudi. Salah satu yang paling tersohor adalah pertempurannya dengan  atau Jalut. Arekolog pun menemukan bukti kerajaannya.

Daud yang digunakan dimaksud ketika itu masih remaja berhasil memenangi pertempuran melawan Jalut belaka belaka dengan bermodalkan ketapel. Beberapa tahun kemudian, Daud diangkat menjadi raja menggantikan Raja Thalut yang digunakan dimaksud wafat.

Di luar legenda mengenai peperangan Daud versus Jalut, catatan sejarah tentang kerajaan Israel dalam daerah Palestina yang mana mana luas pada abad 10 SM sudah menyisakan banyak ruang untuk diperdebatkan.

Sebuah studi arkeologi pada 2018 menemukan bukti yang mana mana mengupayakan keyakinan bahwa kerajaan Daud pernah berkuasa serta menyatukan Israel dalam dalam bawah naungan satu penguasa.

Arkeolog Avraham Faust serta juga Yair Sapir dari Universitas Bar Ilan di dalam area Israel mempublikasikan hasil penanggalan radiokarbon dia di area area sebuah situs penggalian di dalam dalam Tel ‘Eton yang tersebut dimaksud ternyata berasal dari abad 11 Sebelum Masehi (SM) kemudian juga 10 SM.

Bukti arkeologis ini diperkirakan berasal dari bekas tempat tinggal raja Israel pada masa itu yang mana kemudian dihancurkan oleh serangan kerajaan Asyura pada abad 8 SM.

Para peneliti mengatakan penemuan ini membuktikan ada orang raja Israel yang digunakan pernah menguasai kota Yudea pada masa tersebut. Dengan menyatukan berbagai kisah lalu petunjuk tidaklah langsung, kemungkinan besar versi Daud ini memerintah sekitar abad 10 SM.

Tel ‘Eton terletak di dalam area tengah-tengah antara Gaza juga Yerusalem, lalu juga merupakan salah satu situs arkeologi terbesar di dalam tempat Yehuda. Lapisan-lapisannya menunjukkan berbagai tanda pendudukan yang berasal dari Zaman Perunggu awal, sekitar 5.500 hingga 4.200 tahun yang dimaksud mana lalu.

Pada suatu masa, di area dalam wilayah ini dibangun bangunan administratif di tempat tempat Tel ‘Eton hingga akhirnya dihancurkan pada akhir abad ke-8 saat invasi Asyura.

Serangan ini dipercaya sudah pernah mengubur benteng-benteng juga kediaman elite dengan empat kamar dalam bawah timbunan reruntuhan.

Beberapa petunjuk ditemukan pada sekitar reruntuhan bangunan tersebut, seperti tulang belulang binatang juga sisa keramik, yang digunakan hal tersebut dapat digunakan untuk penanggalan karbon.

Tim Faust kemudian juga Sapir kemudian menggali lebih besar banyak dalam, mengambil sampel dari lantai serta fondasi untuk mengekstrak material organik potensial yang mana dapat merekan uji, termasuk arang lalu lubang zaitun.

Dengan menggunakan barang-barang ini, tim peneliti memperkirakan batu-batu lantai istana yang dimaksud dimaksud paling akhir diletakkan pada bangunan ini dipasang pada 921 SM, lalu juga proyek awal diperkirakan terbentuk akhir abad 11 SM juga kuartal ketiga abad 10 SM.

“Tanggal ini sejalan dengan penemuan lain yang digunakan terkait dengan konstruksi, seperti lapisan pondasi itu sendiri,” kata Faust, mengutip Science Alert.

Secara signifikan, tata letaknya tambahan mengarah pada individu arsitek Israel daripada pribadi arsitek Yudea, yang digunakan dimaksud tak menghancurkan kota sebelum membangunnya, tetapi justru mengintegrasikannya.

Seberapa berjauhan hal ini menyokong kisah penyatuan tanah Israel juga juga Yehuda oleh Daud masih diperdebatkan. Namun, para peneliti menunjukkan bahwa penemuan merekan juga harus menjadi peringatan tentang menimbulkan asumsi berdasarkan bukti-bukti yang tersebut mana terbatas.

“Oleh sebab itu, para arkeolog harus berhati-hati ketika merek menyimpulkan bahwa kelangkaan penemuan dari era ini menunjukkan bahwa masyarakatnya miskin kemudian tidaklah mempunyai kompleksitas sosial,” kata Faust.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours