Sains di Balik ‘Kebencian Abadi’ di Antara Israel dan Palestina

Estimated read time 3 min read

 saraf dari Boston College, Amerika Serikat, mengungkap secara saintifik alasan ‘kebencian abadi’ pada tengah konflik Israel dan .

Hal itu berdasarkan sebuah studi baru kualitatif terbaru yang tersebut yang disebut melibatkan partisipasi hampir 3.000 orang dalam Israel kemudian Palestina di tempat dalam Timur Tengah, Partai Republik lalu Demokrat dalam Amerika Serikat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing pihak merasa kelompok merekan tambahan termotivasi oleh rasa cinta daripada rasa benci.

Namun, ketika ditanya mengapa kelompok lawan terlibat dalam konflik, partisipan menjawab rasa benci sebagai faktor pendorong kelompok tersebut.

Pola yang mana bias ini meningkatkan keyakinan sulitnya menyelesaikan konflik, termasuk keengganan untuk bernegosiasi lalu bahkan untuk memilih solusi kompromi.

Gagasan ini disebut asimetri atribusi motif, atau keyakinan satu kelompok bahwa saingan dia termotivasi oleh emosi yang dimaksud berlawanan dengan emosi mereka.

“Sangat menarik untuk melihat bahwa orang mampu semata buta terhadap sumber perilaku di tempat tempat pihak lain, bahwa Anda dapat belaka mengatakan bahwa Anda termotivasi oleh rasa cinta pada kelompok Anda sendiri serta Anda tak mampu menerapkannya pada penalaran tentang pihak lain,” kata Liane Young, Asisten Profesor Psikologi di tempat dalam Boston College.

Metode penelitian

Konflik Palestina-Israel sendiri sanggup jadi dirunut sejak era Perang Dunia I saat muncul gagasan kesulitan rumah buat bangsa Yahudi dalam tempat tanah Palestina lewat Deklarasi Balfour, 1917. Sejak itu, berseri-seri perang militer lalu konflik sipil tak kunjung padam hingga hari ini.

Young kemudian meneliti fenomena ini bersama Adam Waytz, penulis utama dari Northwestern University serta juga Jeremy Ginges dari The New School of Social Research.

Penelitian ini terdiri dari lima studi yang dimaksud itu melibatkan lebih lanjut tinggi dari 2.200 warga Israel pada area luar negeri kemudian 650 anggota Partai Republik serta Demokrat pada dalam negeri.

Hasilnya menunjukkan bahwa kedua belah pihak tidaklah dapat menemukan solusi atau kompromi lantaran keduanya miliki perspektif yang tersebut dimaksud berbeda dalam memandang satu sejenis lain.

“Ada ketidaksesuaian antara apa yang saya pikirkan tentang motif kelompok saya juga apa yang dimaksud Anda pikirkan tentang motif kelompok saya – sepertinya ada kesalahan atau bias dalam cara pandang,” kata Young.

Studi yang dimaksud diunggah di dalam area jurnal The Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) juga menunjukkan bahwa dalam konflik antarkelompok kebijakan pemerintah kemudian etnoreligius, cenderung menghubungkan agresi kelompok dia dengan cinta dalam kelompok.

Kendati demikian, peneliti harus menjanjikan hadiah kepada partisipan untuk menjawab pertanyaan dengan jujur tentang apa motivasi pada balik lawan.

“Kami semata-mata memberi tahu orang-orang bahwa merekan akan mendapatkan bonus jika menjawab dengan benar, jadi dia harus percaya bahwa ada jawaban yang mana digunakan benar,” kata Young dikutip ScienceDaily.

“Sepertinya kita setidaknya mampu mengubah penilaian orang lalu bahwa orang tiada ada begitu putus asa sehingga merekan tidaklah sanggup sekadar menjawab dengan benar ketika merekan termotivasi untuk menjawab dengan benar.”

Meskipun asimetri atribusi motif menghasilkan solusi dan juga juga kompromi menjadi tiada mungkin dicapai, makalah penelitian ini menunjukkan bahwa mengenali bias atribusi kelompok dapat mengurangi konflik global.

“Meskipun orang merasa sulit untuk menjelaskan tindakan musuh merek dalam hal cinta serta afiliasi, kami menyarankan agar mengenali bias atribusi ini serta cara menguranginya dapat berkontribusi untuk mengurangi konflik manusia dalam skala global.”

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours